Photography.. you’re so beautiful , Can I marry you?

•Agustus 13, 2013 • Tinggalkan sebuah Komentar

Alkisah ada dua anak muda. Namanya si Ahmad dan satunya lagi namanya Albar. Keduanya sangat mencintai fotografi. Tiada hari terlewat tanpa mendengarkan bunyi click dari shutter kamera. 

Karena begitu cintanya pada fotografi, suatu hari mereka memutuskan untuk mengambil keputusan besar. Selama ini fotografi adalah kekasih mereka. Dan sekarang mereka bermaksud menikahinya; menjadikan fotografi sebagai profesi mereka.

Sandang pangan mereka. Periuk nasi. Si Ahmad sangat bahagia karena dulu dia harus membayar untuk ikut hunting fotografi atau menyewa model, sekarang malah dia dibayar buat memotret. Dulu dia tidak punya alasan untuk membeli gear baru, sekarang dia punya. Karena pernikahan dengan fotografi, cintanya pada mantan kekasihnya ini makin membara. “My life is so beautiful” katanya. 

Sepuluh tahun kemudian, usaha fotografi si Ahmad makin berkibar. Langganannya tersebar dimana-mana. Dan dia begitu bahagia karena pekerjaannya adalah juga hobinya. Tiap hari dia tiada hentinya mengucap syukur pada yang di atas. Di lain pihak, perasaan si Albar tidak demikian. Dulu cintanya pada mantan kekasihnya begitu membara. Tapi saat kekasihnya itu menjadi periuk nasinya; ada sesuatu yang berubah. Dia tidak bisa lagi memotret apa yang dia benar-benar sukai. Dia harus memotret banyak acara ulang tahun, sunatan dan wedding yang sejujurnya dia tidak terlalu suka. Dia tidak mampu membeli gear yang dia inginkan karena persaingan fotografi profesional begitu keras membuat dia harus banting harga. Efeknya dia harus berhemat. 

Dia harus berkompromi dengan kemauan client-nya yang sering merasa lebih “pintar” dari dia. Dia sering jengkel karena dia sudah bikin setting lampu yang begitu agung penuh dengan drama light and shadow, walah…ternyata client-nya malah pengen difoto dengan lighting ala pas foto. Dia juga sering diomelin oleh MUA karena saat dia mainkan lighting dengan penuh drama, justru riasan si MUA jadi kurang nampak. Dulu dia berpikir kalau dia itu seniman murni. Tapi saat menjadi fotografer pro, dia baru sadar kalau dia itu sebetulnya menjual produk yang kebetulan wujudnya adalah fotografi. Akhirnya dia jenuh. Fotografi sudah tidak asyik lagi. Kekasihnya tidak seperti dulu lagi. Sepuluh tahun kemudian dia menjadi lelaki yang lebih tua daripada seharusnya. Penuh penyesalan. Dia menyalahkan orang sekelilingnya yang mendorongnya menjadi fotografer profesional. Tapi dalam hati dia tahu itu salahnya sendiri. Apakah teman-teman merasa familiar dengan kisah ini? Tulisan ini kutujukan terutama bagi mereka yang muda-muda yang sekarang ini dalam persimpangan. Apakah kamu akan menikahi kekasihmu; fotografi? Atau tidak? My dear friends, hanya dirimu yang bisa menjawab pertanyaan ini. Secara teoritis, hobi menjadi pekerjaan itu adalah something wonderful. Tapi dalam praktek tidak sesederhana itu. Bagi mereka yang ingin kaya raya dengan menjadi fotografer, pikirkan lagi. Sekarang bisnis fotografi bukan lagi ayam bertelur emas seperti dulu. Terlalu banyak kompetisi. Mungkin kamu berbakat tapi begitu banyak orang berbakat di jaman sekarang. Pertanyaannya: “Are you ready to do  whatever it takes?”Happy shooting everyone !

 

Sumber : click Here

Cara membersihkan Sensor Kamera DSLR dari Debu

•Mei 11, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kebiasaan mengganti lensa di luar ruangan pada kamera D-SLR(Digital Single Lens Reflex) bisa mengakibatkan partikel debu masuk dan menempel pada sensor kamera yang pada akhirnya bisa mempengaruhi hasil foto.

Cara membersihkan  Sensor Kamera DSLR dari Debu
Biasanya kalau sudah begitu, kita akan menyerahkan pembersihan sensor kamera tsb ke pihak service centre. Kalau garansinya masih berlaku sih nggak masalah, tapi kalau sudah nggak berlaku, Anda harus rela merogoh kocek kurang lebih Rp.100 – 200rb.

Nah, berikut ini ada tips untuk membersihkan sendiri kamera DSLR Anda yang saya rangkum dari beberapa tulisan di forum fotografer.net dan menurut teman-teman sudah Mareka praktekkan pada Nikon D40, D60, D70, D70s, D200 dan berhasil.

Langkah pertama pastikan dulu apakah memang sensor Anda yg kotor, caranya setting kamera pada:

  1. iso 100/200
  2. Bukaan diafragma paling sempit
  3. Focus manual
  4. Titik focus terserah
  5. Speed menyesuaikan

Fotokan kamera ke layar monitor yg sudah di set BG putih (buka new file di ps dengan ukuran 800×600 pixel kemudian zoom 100% lalu tekan tab). Hasilnya buka di ps lalu tekan ctrl+l, klik autolevel.

Setelah ketahuan sensor Anda emang kotor, langkah kedua

  1. Buka lensa dr body
  2. Cari di menu Mirror lock-up lalu start. (pada Nikon D40 Anda bisa pencet tombol menu, lalu pilih icon yg gambar “kunci pas” (di atasnya retouch menu) cari di bagian bawah ada menu mirror lock up. Kalau nggak ada menu mirror lock up berarti menu mirror lock up tdk ditampilkan waktu ngeset “CSM/Setup menu/my menu”. Masuk dulu ke “CSM/Setup menu” pilih “full” trus keluar, cari menu mirror lock up yg di “Setup menu” (bukan yg di dlm CSM/Setup menu), lalu di ON, kemudian akan muncul tulisan “when the shutter button is pressed, the mirror lifts…….” baru pencet shutter buttonnya)
  3. Cermin akan terbuka jika shutter ditekan .
  4. lalu bersihkan pakai blower…posisi blower agak jauh, jgn sampai menyentuh sensor…jgn lupa body menghadap ke bawah. (pastikan pipa blower Anda terpasang rapat, kalau perlu diselotip aja)
  5. Setelah yakin bersih…Off-kan kamera…cermin akan menutup lagi
  6. Pasang lensa…lalu lakukan tes seperti langkah pertama.

Nah itulah Cara membersihkan Sensor Kamera DSLR dari Debu semoga bermanfaat.

sumber :klik

Bisakah Mengatasi Light Leak ( Cahaya Bocor )di 5D Mark III dengan Plester ?

•Mei 11, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Beberapa waktu lalu Canon diterpa isu light leak atau Cahaya Bocor di Kamera Canon seri 5D Mark III-nya. Masalah ini terjadi ketika pengguna menyalakan panel LCD yang ada di bagian atas kamera dalam kondisi gelap. Dilaporkan, cahaya yang dihasilkan dari panel LCD ini bocor dan menimpa sensor AE sehingga mengakibatkan angka eksposurenya berubah.

Canon sendiri sudah mengkonfirmasi adanya isu itu dan menawarkan inspeksi gratis pada pengguna yang terkena dampaknya.

bagian dalam Canon 5D Mark IIIBagian dalam 5D Mark III yang sudah diperbaiki (LensRental)

Perusahaan asal Jepang tersebut juga menjanjikan perbaikan di body 5D Mk III yang lebih baru. Nah, penasaran apa yang dilakukan Canon untuk mengatasi problem itu?

Adalah Roger Cicala, orang di balik situs LensRental.com yang menemukan jawabannya. Ia nekat membedah kamera baru 5D III yang telah mendapat perbaikan dan membandingkannya dengan kamera serupa namun yang mengalami masalah.

Setelah pembedahan itu, Cicala pun menemukan keberadaan plester di dalam bodi kamera yang ‘sehat’, tepatnya di bawah layar LCD. Dan ternyata keberadaannya lah yang mampu mengatasi isu light leak karena bisa mencegah bocornya cahaya yang menimpa sensor metering.

Cicala pun memuji pemecahan tersebut. “Ya, ini adalah solusi yang baik dan ia bekerja dengan sempurna,” ujarnya.

Isu light leak yang menerpa 5D III sempat membuat sejumlah konsumen kecewa. Dilaporkan, isu ini disebabkan karena cahaya dari panel LCD menimpa sensor metering dan berdampak pada angka eksposure terutama dalam kondisi super gelap, demikian dilansir Dpreview, Kamis (3/5/2012).

Sumber :klik

Penemu Kamera Pertama adalah Seorang Ilmuwan Muslim

•Mei 11, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Surat kabar terkemuka di Inggris, The Independent pada edisi 11 Maret 2006 sempat menurunkan sebuah artikel yang sangat menarik bertajuk ”Bagaimana para inventor muslim mengubah dunia.”The Independent” 20 penemuan penting para ilmuwan Muslim menyebut sekitar yang mampu mengubah peradaban umat manusia, salah satunya adalah penciptaan Kameraobscura.

Kamera Pertama kali dibuatkamera obscura

Kamera merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan dan bidikanKamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi pembuatan kamera, kini dikuasai peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak umat Muslim yang meyakini kamera berasal dari peradaban Barat.

penemu kameraibnu khaitami fisikawan Muslim legendaris

Jauh sebelum masyarakat Barat menemukannya, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan seorang sarjana Muslim sekitar 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu al-Haitham. Pada akhir abad ke-10 M, al-Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura. Itulah salah satu karya al-Haitham yang paling menumental. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.

Kajian ilmu optik berupa Kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ”ruang gelap”. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.

“Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),” ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz’s perspective.

Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk Kitab al-Manazir (Buku optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.

Bradley Steffens dalam karyanya berjudul Ibn al-Haytham:First Scientist mengungkapkan bahwa Kitab al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. “Dia merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura,” papar Bradley.

Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera).

Setelah itu, penggunaan lensa pada kamera onscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535-1615 M). Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 – 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).

Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827.

Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Dia mengembangkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya – yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Hitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.

Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia.

Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada ahli fisika Muslim yang lahir di Kota Basrah, Irak. Al-Haitham selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia. Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam.

Cara Mudah Membersihkan Sendiri Jamur Pada Lensa Kamera DSLR

•Mei 11, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sebagai seorang fotografer pasti Kesal dengan jamur yang menggelayut di bagian dalam lensa Sekarang saya memberikan tips Cara Mudah Membersihkan Sendiri Jamur Pada Lensa Kamera DSLR . Sobat aziscs1 Tidak perlu membuang-buang duit ratusan ribu rupiah, coba dulu tips yang satu ini.

Peralatan yang diperlukan:
1. Obeng minus.
2. Kain lap bersih.
3. Cairan pembersih lensa.
4. Hair dryer.
Perhatikan: pada bagian depan lensa biasanya terdapat ring yang memiliki ceruk. Ceruk ini agaknya dibuat oleh pabrik lensa untuk membantu membongkar-pasang lensa. Dalam kasus ini, lensa yang diservis adalah Nikkor 18-200 VR.

Pertama-tama, ujung obeng dimasukkan ke dalam ceruk ring lensa.


Untuk menghindari terjadinya goresan, balutlah ujung obeng dengan kain lap (chamois) yang bersih.
Selanjutnya, putarlah ring lensa ke arah berlawanan jarum jam.

Lensa pun terbongkar


Semprot permukaan lensa yang berjamur dengan cairan pembersih lensa (bisa didapatkan gratis di toko-toko kacamata, tentunya jika Anda juga berbelanja kacamatanya)


Keringkan lensa dengan lap (chamois) yang bersih dan kering


Sembur lensa dengan angin panas dari hair dryer


Sembur pula kerongkongan bodi lensa dengan hair dryer

Pasang kembali lensa ke bodinya


Kencangkan ring kembali. Dengan obeng yang dibalut lap

Niscaya, kini lensa Anda terbebas dari jamur dan segera dapat dipakai kembali.

Semuanya ini dapat Anda kerjakan sendiri dengan biaya 0 rupiah.
Biaya servis seperti ini bisa mencapai 300-an ribu rupiah di tempat servis biasa, dan bisa mencapai 700-an ribu rupiah di tempat servis yang membawa sertifikat merek lensa (terutama bila garansi lensa sudah habis atau lensanya memang tidak pernah bergaransi resmi).


Nah mudahkan Sobat aziscs1 Nilai plus lain dari cara ini adalah waktu yang dibutuhkan cuma KURANG DARI 15 MENIT.

 

Istilah dalam fotografi

•Mei 9, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kecepatan Rana (Shutter Speed)

Waktu untuk menyinari sensor (pada DSLR/digicam) atau film pada kamera film. Biasanya dinyatakan dalam 1/x dimana x adalah angka yang tertera pada kamera. Semakin tinggi angka kecepatan rana (yang tertera pada kamera, yang berarti nilai shutter speed makin kecil karena dinyatakan dalam 1/x) maka akan semakin cepat gerakan buka tutup lensa dan cahaya yang masuk semakin sedikit. Shutter speed berkisar antara 1/4000 detik – 30 detik bahkan ada mode Bulb, yaitu kecepatan rana ditentukan oleh lamanya fotografer menekan tombol shutter

White Balance

Kalibrasi titik berwarna putih. Warna yang dianggap putih dapat bervariasi tergantung pada kondisi pencahayaan. Konsep “warna putih” menjadi bukan sesuatu yang absolut. Kebanyakan kamera digital dapat diatur untuk memilih warna putih sesuai selera Anda, biasanya dengan cara mengarahkan kamera ke obyek berwarna putih dalam sinaran cahaya yang ada, teknik ini disebut manual white balance. Beberapa kamera dapat juga mendeteksi adanya cahaya sekitar dan menentukan sendiri warna putih yang dimaksud – hal ini disebut automatic white balance dan pemilihan white balance berdasarkan pilihan jenis lampu yang disediakan pada kamera digital disebut pre-set white balance

Diafragma/Aperture

Komponen dari lensa yang berfungsi mengatur intensitas cahaya yang masuk ke kamera. Bukaan diafragma dinyatakan dalam f/x, dimana x adalah angka yang tertera pada kamera. Semakin tinggi angka bukaan diafragma maka hasil foto akan semakin gelap. Nilai shutter speed dan aperture berbanding lurus namun berbanding terbalik dengan angka yang tampak pada kamera. Jika salah satu nilai kita atur maka nilai yang lainnya akan menyesuaikan untuk menjadi lebih kecil/besar.

ISO / ASA

Tingkat sensitivitas pada sensor / film dalam merekam cahaya. Semakin tinggi nilai ISO, semakin banyak cahaya yang dapat terekam oleh sensor. Pada kondisi kurang cahaya, umumnya fotografer harus memasang shutter speed tinggi (angka di kamera kecil) dan WAJIB memakai tripod agar hasil foto tidak blur. Akan tetapi, jika tidak membawa tripod maka ISO harus dipasang setinggi mungkin untuk mem-backup shutter speed. Konsekuensinya, foto akan memiliki noise yang tinggi karena ISO tinggi tadi.

Film

Orang awam menyebutnya klise. Lembaran plastik seluloid untuk menyimpan gambar yang sangat sensitif cahaya. Film tidak menghasilkan gambar jadi melainkan gambar tidak terlihat. Proses “mencuci” film akan menghasilkan gambar yang dipotret.

Kartu Memori

Tempat menyimpan data foto digital. Bisa berupa CF (Compact Flash), Microdrive, SD (Secure Digital), SDHC (SD High Capacity), atau MMC. Dalam memilih kartu memori, pilih sesuai kebutuhan. Jika kita lebih memilih format RAW dibandingkan JPEG, pilih yang berkapasitas tinggi dan kecepatan menulisnya besar. Hal ini dikarenakan format RAW memiliki jumlah piksel dan ukuran file yang lebih besar

Red-Eye

Efek yang terjadi jika memotret manusia di tempat gelap dan memakai flash secara tiba-tiba. Hasil foto menunjukkan mata yang merah, dapat diatasi dengan fitur Red-Eye Reduction pada software editing foto atau memakai Pre-Flash sebelum memotret

Aturan Sepertiga

Aturan yang menempatkan objek pada sepertiga atas dalam foto

Untuk foto potret personal, coba tempatkan wajah subjek foto di pojok kanan atas atau pojok kiri atas pada LCD/viewfinder

Panning

Teknik memotret yang memberi kesan bergerak pada objek. Caranya dengan membuat shutter speed dibawah 1/125 detik kemudian mengatur fokus objek dan menekan shutter sambil mengikuti arah gerak objek

Freezing

Teknik memotret yang membuat gerak objek seolah-olah terhenti. Caranya dengan membuat shutter speed diatas 1/125 detik atau lebih cepat dari pergerakan objek yang kita potret. Teknik freezing juga dikenal sebagai teknik high speed photography karena teknik ini membutuhkan kecepatan rana yang tinggi

Zooming

Teknik memotret dengan cara mengatur fokus objek. Setelah fokus, shutter ditekan sambil melakukan zoom/memutar lensa

Tripod

Penyangga kamera yang berbentuk kaki tiga

Selective Focus/Bokeh

Teknik fotografi yang membuyarkan objek pada foto. Ada yang disebut objek depan dan objek belakang. Pada selektif fokus, foto akan mem-blur-kan objek depan atau objek belakang. Jika kedua objek blur maka foto dikatakan blur. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengatur fokus secara manual dan objek depan harus dekat dengan lensa kamera

Sumber

Tugas 4: Kliring

•April 1, 2011 • 1 Komentar

Kliring  adalah suatu istilah dalam dunia perbankan dan keuangan menunjukkan suatu aktivitas yang berjalan sejak saat terjadinya kesepakatan untuk suatu transaksi hingga selesainya pelaksanaan kesepakatan tersebut. Kliring sangat dibutuhkan sebab kecepatan dalam dunia perdagangan jauh lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan guna melengkapi pelaksanaan aset transaksi. Kliring melibatkan manajemen dari paska perdagangan, pra penyelesaian eksposur kredit, guna memastikan bahwa transaksi dagang terselesaikan sesuai dengan aturan pasar, walaupun pembeli maupun penjual menjadi tidak mampu melaksanakan penyelesaian kesepakatannya.

Proses kliring adalah termasuk pelaporan / pemantauan, margin resiko, transaksi dagang menjadi posisi tunggal, penanganan perpajakan dan penanganan kegagalan. Kliring antarbank adalah pertukaran warkat ( cek, bilyet giro, nota kredit, nota debit) antarbank yang hasil perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu. Kliring diatur oleh Bank Indonesia baik waktu dan tempat pelaksanaan. Sedangkan peserta Kliring adalah bank umum dalam wilayah kliring

Jenis – Jenis Kliring :
1.    Kliring Manual
Yaitu perhitungan utang piutang di antara bank peserta kliring lokal dengan cara saling menyerahkan warkat kliring untuk memperluas lalu lintas pembayaran secara giral (noncash).
2.    Kliring Elektronik
Yaitu kliring lokal yang dalam perhitungan dan pembuatan bilyet saldo kliring berdasarkan data elektronik yang disertai dengan penyerahan warkat bank peserta kliring kepada penyelenggara kliring (Bank Indonesia) untuk diteruskan kepada bank penerima.

Secara umum, definisi likuiditas adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dana (cash flow) dengan segera dan dengan biaya yang sesuai. Pada kali ini kita akan mempelajari tentang likuiditas bank secara umumnya, dimana fungsi dari likuiditas secara umum untuk :
1)    Menjalankan transaksi bisnisnya sehari-hari;
2)    Mengatasi kebutuhan dana yang mendesak;
3)    Memuaskan permintaan nasabah akan pinjaman dan;
4)  Memberikan fleksibilitas dalam meraih kesempatan investasi menarik yang menguntungkan Pengertian likuiditas bank adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajibannya, terutama kewajiban dana jangka pendek.

Dari sudut aktiva,  likuiditas adalah kemampuan untuk mengubah seluruh aset menjadi bentuk tunai (cash), sedangkan Dari sudut pasiva, likuiditas adalah kemampuan bank memenuhi kebutuhan dana melalui peningkatan portofolio reliabilitas. Apabila bank tidak mampu memenuhi kebutuhan dana dengan segera untuk memenuhi kebutuhan transaksi sehari-hari maupun guna memenuhi kebutuhan dana yang mendesak maka muncullah “resiko likuiditas“.
Definisi Resiko Likuiditas adalah risiko terjadinya kerugian yang merupakan akibat dari adanya kesenjangan antara sumber pendanaan yang pada umumnya berjangka pendek dan aktiva yang pada umumnya berjangka panjang. Besar kecilnya risiko likuiditas ditentukan antara lain:
a)    Kecermatan dalam perencanaan arus kas atau arus dana berdasarkan prediksi                pembiayaan dan prediksi pertumbuhan dana, termasuk mencermati tingkat fluktuasi dana;
b)    Ketepatan dalam mengatur struktur dana termasuk kecukupan dana-dana non PLS;
c)    Ketersediaan aset yang siap dikonversikan menjadi kas; dan
d)    Kemampuan menciptakan akses ke pasar antar bank atau sumber dana lainnya, termasuk fasilitas lender of last resort.

Apabila kesenjangan tersebut cukup besar maka akan menurunkan kemampuan Bank untuk memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo. Oleh karena itu untuk mengantisipasi terjadinya risiko likuiditas, maka diperlukan manajemen likuiditas, yang mana pengelolaan likuiditas bank juga merupakan bagian dari pengelolaan liabilitas.
Untuk mengatasi dan mengantisipasi terjadinya Risiko Likuiditas, aktivitas Manajemen Risiko yang umumnya ditetapkan oleh Bank antara lain adalah:
a)    Melaksanakan monitoring secara harian atas besarnya penarikan dana yang dilakukan oleh nasabah baik berupa penarikan melalui kliring maupun penarikan tunai.
b)  Melaksanakan monitoring secara harian atas semua dana masuk baik melalui incoming transfer maupun setoran tunai nasabah.
c)    Membuat analisa sensitivitas likuiditas Bank terhadap skenario penarikan dana berdasarkan pengalaman masa lalu atas penarikan dana bersih terbesar yang pernah terjadi dan membandingkannya dengan penarikan dana bersih rata-rata saat ini. Dari analisa tersebut dapat diketahui tingkat ketahanan likuiditas Bank.
d)    Selanjutnya Bank menetapkan secondary reserve untuk menjaga posisi likuiditas Bank, antara lain menempatkan kelebihan dana ke dalam instrumen keuangan yang likuid.
e)    Menetapkan kebijakan Cash Holding Limit pada kantor-kantor cabang Bank. Melaksanakan fungsi ALCO (Asset & Liability Committee) untuk mengatur tingkat bunga dalam usahanya dan meningkatkan/menurunkan sumber dana tertentu.
Oleh karena itu bank wajib menyediakan likuiditas tersebut dengan cukup dan mengelolanya dengan baik, karena apabila likuiditas tersebut terlalu kecil maka akan mengganggu kegiatan operasional bank, namun demikian likuiditas juga tidak boleh terlalu besar, karena apabila jumlah likuiditas terlalu besar maka akan menurunkan efisiensi bank sehingga berdampak pada rendahnya tingkat profitabilitas

KLIRING MANUAL

Transaksi Kliring
Adalah sarana perhitungan hutang piutang antar bank – bank yang melakukan transaksi kliring, dimana bank – bank tidak perlu membayar secara fisik terhadap setiap transaksi kliring.
Transaksi kliring melibatkan lembaga kliring yaitu Bank Indonesia yang mengatur mekanisme kliring. Untuk kepentingan kliring maka setiap bank di wajibkan menjadi anggota kliring di Bank Indonesia dan memiliki rekening di Bank Indonesia untuk memudahkan transaksi.

ANGGOTA KLIRING
Terdapat dua jenis anggota kliring, yaitu :
1. Anggota Kliring Aktif
Yaitu anggota kliring yang namanya tercatat sebagai anggota di Bank Indonesia
2. Anggota Kliring Pasif
Yaitu anggota kliring yang namanya tidak tercatat di Bank Indonesia, tetapi melakukan kegiatan kliring dengan cara menginduk pada cabang pusat bank yang bersangkutan.

PEMBUKUAN TRANSAKSI KLIRING
Kembali ke ilustrasi diatas, Pada saat Bank ABC menerima warkat giro dari Bank Omega kedua akan mencatat transaksi kliring tersebut sebagai berikut.
Pembukuan transaksi kliring ini dapat ditampung pada rekening sementara ‘ Kliring “ atau dapat langsung ke Rekening Giro pada Bank Indonesia..

NERACA KLIRING
Pada akhir hari kliring akan dibuatka neraca kliring sebagai laporan akhir transaksi kliring.dari neraca ini maka akan diketahui apakah rekening Giro mengalami kenaikan atau sebaliknya.
Apabila penjumlahan debet neraca lebih besar dari pada jumlah kredit maka bank yang bersangkutan menang kliring.Untuk menutup semua transaksi kliring oada hari bersangkutan akan dibukukan semua saldo rekening kliring dan giro pada Bank Indonesia.

Contoh:
D : Kliring … Rp. 80.000.000
K : Bank Indonesia Giro …… Rp. 80.000.000