Photography.. you’re so beautiful , Can I marry you?

Alkisah ada dua anak muda. Namanya si Ahmad dan satunya lagi namanya Albar. Keduanya sangat mencintai fotografi. Tiada hari terlewat tanpa mendengarkan bunyi click dari shutter kamera. 

Karena begitu cintanya pada fotografi, suatu hari mereka memutuskan untuk mengambil keputusan besar. Selama ini fotografi adalah kekasih mereka. Dan sekarang mereka bermaksud menikahinya; menjadikan fotografi sebagai profesi mereka.

Sandang pangan mereka. Periuk nasi. Si Ahmad sangat bahagia karena dulu dia harus membayar untuk ikut hunting fotografi atau menyewa model, sekarang malah dia dibayar buat memotret. Dulu dia tidak punya alasan untuk membeli gear baru, sekarang dia punya. Karena pernikahan dengan fotografi, cintanya pada mantan kekasihnya ini makin membara. “My life is so beautiful” katanya. 

Sepuluh tahun kemudian, usaha fotografi si Ahmad makin berkibar. Langganannya tersebar dimana-mana. Dan dia begitu bahagia karena pekerjaannya adalah juga hobinya. Tiap hari dia tiada hentinya mengucap syukur pada yang di atas. Di lain pihak, perasaan si Albar tidak demikian. Dulu cintanya pada mantan kekasihnya begitu membara. Tapi saat kekasihnya itu menjadi periuk nasinya; ada sesuatu yang berubah. Dia tidak bisa lagi memotret apa yang dia benar-benar sukai. Dia harus memotret banyak acara ulang tahun, sunatan dan wedding yang sejujurnya dia tidak terlalu suka. Dia tidak mampu membeli gear yang dia inginkan karena persaingan fotografi profesional begitu keras membuat dia harus banting harga. Efeknya dia harus berhemat. 

Dia harus berkompromi dengan kemauan client-nya yang sering merasa lebih “pintar” dari dia. Dia sering jengkel karena dia sudah bikin setting lampu yang begitu agung penuh dengan drama light and shadow, walah…ternyata client-nya malah pengen difoto dengan lighting ala pas foto. Dia juga sering diomelin oleh MUA karena saat dia mainkan lighting dengan penuh drama, justru riasan si MUA jadi kurang nampak. Dulu dia berpikir kalau dia itu seniman murni. Tapi saat menjadi fotografer pro, dia baru sadar kalau dia itu sebetulnya menjual produk yang kebetulan wujudnya adalah fotografi. Akhirnya dia jenuh. Fotografi sudah tidak asyik lagi. Kekasihnya tidak seperti dulu lagi. Sepuluh tahun kemudian dia menjadi lelaki yang lebih tua daripada seharusnya. Penuh penyesalan. Dia menyalahkan orang sekelilingnya yang mendorongnya menjadi fotografer profesional. Tapi dalam hati dia tahu itu salahnya sendiri. Apakah teman-teman merasa familiar dengan kisah ini? Tulisan ini kutujukan terutama bagi mereka yang muda-muda yang sekarang ini dalam persimpangan. Apakah kamu akan menikahi kekasihmu; fotografi? Atau tidak? My dear friends, hanya dirimu yang bisa menjawab pertanyaan ini. Secara teoritis, hobi menjadi pekerjaan itu adalah something wonderful. Tapi dalam praktek tidak sesederhana itu. Bagi mereka yang ingin kaya raya dengan menjadi fotografer, pikirkan lagi. Sekarang bisnis fotografi bukan lagi ayam bertelur emas seperti dulu. Terlalu banyak kompetisi. Mungkin kamu berbakat tapi begitu banyak orang berbakat di jaman sekarang. Pertanyaannya: “Are you ready to do  whatever it takes?”Happy shooting everyone !

 

Sumber : click Here

~ oleh dharduarr pada Agustus 13, 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: